VISI MISI SMP NEGERI 2 BANYUWANGI BERKARAKTER, BERPRESTASI, DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN

Rabu

Program Indonesia Pintar

Program Indonesia Pintar
SMP Negeri 2 Banyuwangi

Program Indonesia Pintar: Pertemuan dengan Wali Murid
     Program Indonesia Pintar (PIP) melaui Kartu Indonesia Pintar ini merupakan kelanjutan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang mencakup siswa dari jenjang pendidikan SD/MI,SMP/MTs,SMA/SMK/MA, dan siswa/warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar (PKBM)/lembaga Kursus dan pelatihan hingga anak usia sekolah seperti anak jalanan, pekerja anak, anak-anak yang berada di panti asuhan dan anak-anak difabel dari rumah tangga/keluaraga dengan status ekonomi terendah secara nasional yaitu 15,5 juta Rumah Tangga.
     Tujuan dari Program Indonesia Pintar (PIP) melaui Kartu Indonesia Pintar ini antara lain adalah sebagai berikut: 
  1. Meningkatkan akses bagi anak usia 6-21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah untuk mendukung pelaksanaan Pendidikan Menengah Universal/Rintisan Wajib Belajar 12 Tahun. 
  2. Mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah (drop out) atau tidak melanjutkan pendidikan akibat kesulitan ekonomi. 
  3. Menarik siswa putus sekolah (drop out) atau tidak melanjutkan agar kembali mendapatkan layanan pendidikan di sekolah/Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)/Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) maupun Lembaga Kursus dan Pelatihan.
Program Indonesia Pintar: Suasana validasi data penerima PIP
     Sasaran Penerima Program Indonesia Pintar (PIP) diprioritaskan kepada diantaranya adalah 
  1. Penerima BSM 2014 Pemegang KPS yang ada dalam Dapodik;
  2. Siswa/anak dari keluarga pemegang KPS/(Kartu Keluarga Sejahtera) KKS yang belum menerima BSM 2014;
  3. Siswa/anak dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH) non KPS;
  4. Siswa/anak yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari Panti Sosial/Panti Asuhan;
  5. Siswa/anak yang terkena dampak bencana alam; 
  6. Anak usia 6-21 tahun yang tidak bersekolah (drop-out) yang diharapkan kembali bersekolah; 
  7. Siswa/anak dari keluarga miskin/rentan miskin yang terancam putus sekolah;
  8. Siswa/anak dengan pertimbangan khusus lainnya seperti kelainan fisik, korban musibah berkepanjangan, siswa dari orang tua terkena PHK, siswa di daerah konflik sosial, siswa dari keluarga terpidana, anak berada di LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan), dan siswa memiliki lebih dari 3 (tiga) saudara tinggal serumah; 
  9. Siswa dari SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang: Pertanian (bidang Agrobisnis dan Agroteknologi) Perikanan, Peternakan, kehutanan dan Pelayaran/Kemaritiman  *) Baik siswa sekolah formal maupun anak didik dari lembaga pendidikan non formal (SKB/PKBM/lembaga kursus dan pelatihan)
     SMP Negeri 2 Banyuwangi yang merupakan lembaga sekolah negeri untuk tahun 2016 ini mendapatkan Program Indonesia Pintar sangatlah membantu dalam hal meringankan beban orang tua. Untuk saat ini sekolah mendapatkan Program Indonesia Pintar sebanyak 185 siswa yang terdiri dari kelas 7 hingga kelas 9.


HARI KARTINI

Makna Hari Kartini
Bagi Generasi Perempuan Modern

SMP Negeri 2 Banyuwangi: Hari Kartini di sekolah
     Hari Kartini yang diperingati tanggal 21 April setiap tahunnya merupakan salah satu hari nasional yang dirasa spesial bagi sekolah karena banyak makna pesan yang tersampaikan di dalamnya. Banyak pesan yang disampaikan lewat perjuangan yang telah dibangun oleh seorang Kartini muda semasa hidupnya. Bagi wanita masa kini, peran adanya peringatan hari tersebut merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena Kartini menjadi pelopor untuk sebuah kemajuan wanita terutama di Indonesia. Dengan hal itu makna hari Kartini bukan hanya menjadi upacara perayaan semata.
     Kartini merupakan sosok perempuan Indonesia yang berusaha untuk bisa meningkatkan derajat perempuan agar bisa lebih baik dari segi pendidikan. Dampak dari perjuangannya tersebut hingga kini masih terasa. Beberapa hal berikut menjadikan makna hari Kartini begitu bermanfaat bagi seorang perempuan, yang di tulis ulang dari artikel.web.id

SMP Negeri 2 Banyuwangi: Kartini masa kini
Mendapatkan pendidikan yang setara
     Seorang perempuan memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Itulah juga yang merupakan inti dari perjuangan Kartini dalam membebaskan kaum perempuan dari kebodohan. Kini hal tersebut tampak nyata dari banyaknya perempuan yang telah mengenyam pendidikan yang tinggi dan akhirnya memiliki profesi yang sangat baik di bidangnya. Hal ini bahkan menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia karena memiliki perempuan hebat yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Kesetaraan pendidikan juga berlaku mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan tak jarang seorang perempuan memiliki kegigihan yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pria. Sehingga banyak dari mereka yang memiliki prestasi terbaik di bidang akademik. Oleh karena itu jangan remehkan peran perempuan dalam kemajuan Indonesia.

Mendapatkan perlakuan yang sama dalam segi kehidupan
     Makna hari Kartini menjadi moment tersendiri bagi mereka yang merasa ditindas di keluarga atau di lingkungannya berada. Dengan adanya semangat Kartini, kaum perempuan memiliki hak untuk melawan dari berbagai tindakan kekerasan seperti yang terjadi dalam rumah tangga. Hukum pun menjamin kebebasan perempuan tersebut sehingga bagi mereka yang berani menyakiti perempuan dapat dikenai pasal hukum yang berat. Hal ini sungguh jauh berbeda dengan jaman dulu dimana wanita lebih banyak ditindas dan diremehkan.
Dengan adanya semangat yang besar dari para perempuan di Indonesia, makna Hari Kartini  akan sangat spesial terutama mereka yang mendapat perlakuan tidak sewajarnya dan memperbudak kaum perempuan dalam kekuasaannya. Oleh sebab itu perempuan harus mulai bangkit untuk memperjuangkan hidupnya sekaligus memberikan citra baik bagi bangsa dan negara.
     Patutlah kita bangga dengan apa yang saat ini kita capai merupakan hasil jerih payah anak bangsa dengan dedikasi tinggi mampu merubah pandangan tentang posisi wanita di era modern. Walaupun demikian tidaklah semudah kita menerjemahkan makna hari Kartini dikaitkan dengan segala bentuk kebebasan wanita merupakan inisiatif perjuangan beliau. Kita haruslah mampu memberikan porsi kedudukan, hak dan kewajiban wanita sesuai dengan norma-norma masyarakat Indonesia.
 

 

Senin

FLS2N dan O2SN Banyuwangi

Mengukir Prestasi Non Akademis Di Ajang 
FLS2N dan O2SN Kabupaten Banyuwangi

     Mengukir prestasi menuju ke jenjang Nasional melalui FLS2N (Festival Lomba Sesni Siswa Nasional) se Kabupaten Banyuwangi dilalui oleh peserta dengan semangat dan keinginan untuk menjadi nomor satu. Tahun 2016 ini SMP Negeri 2 Banyuwangi meraih penghargaan di nomor seni yaitu: Cipta Puisi mendapat penghargaan ke III atas nama Siti Fatimah, dan mendapatkan penghargaan ke V dalam baca puisi atas nama Rosalinda Suhariyanti.
     Meskipun raihan nomor seni tidak begitu berkilau seperti tahun-tahun sebelumnya, namun harapan besar untuk berprestasi yang lebih baik adalah harapan kedepan bagi semua warga sekolah. Untuk itu dtengah-tengah kegiatan upacara bendera hari senin tanggal 18 April 2016 tanda penghargaan tersebut diserahterimakan di hadapan peserta upacara sekaligus memberikan motivasi untuk selalu berusaha berprestasi.
     Prestasi yang membanggakan adalah di O2SN, dimana wakil SMP Negeri 2 Banyuwangi masing-masing di cabang Kata Karate menjadi Juara 1 atas nama Bima Arya Samudra 7F dan Juara 4 di cabang Renang atas nama R. Anggoro kelas 7C.
Prestasi dalam FLS2N
Arya Bayu Samudra (bersalaman) meraih Juara 1 Karate pada O2SN tingkat Kabupaten Banyuwangi
PENCERAHAN: OSIS 2015/2016 berpose bersama alumni yang  menjadi staf Kepresidenan
KREASI SISWA: Recycle Plastic

Minggu

KURIKULUM 2013 DISEDERHANAKAN

Poin Hasil Penyederhanaan 
Kurikulum 2013

KURIKULUM 2013
     Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, memutuskan mengoreksi Kurikulum 2013 untuk disederhanakan. Alasannya, beban penilaiannya dianggap terlalu besar.  "Sistem penilaian pada Kurikulum 2013 dengan penilaian autentik memberatkan guru karena waktunya habis hanya untuk melakukan penilaian," ujar Anies di Kudus, seperti dilansir Antara, Minggu (17/4). Untuk itu, kata dia, disederhanakan supaya guru bisa menilai dengan mudah. Sekolah yang sebelumnya menerapkan Kurikulum 2013, kata dia, sekarang gurunya diikutkan dalam pelatihan. Jumlah guru yang diikutkan dalam pelatihan, kata dia, sebanyak 254.000 guru untuk dilatih melaksanakan kurikulum itu dengan cara yang baru. Sebetulnya, Kurikulum 2013 cukup baik, hanya saja ketika dilaksanakan serempak tanpa persiapan matang, menimbulkan masalah. Untuk itu, guna melaksanakan kurikulum dengan cara yang baru nantinya tentu harus ada pelatihan hingga semuanya benar-benar siap.
     Kesulitan guru untuk menilai kepribadian siswa pada Kurikulum 2013 kini dipermudah. Kini hanya guru agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang akan menilai sisi spiritual dan sosial siswa. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan, perubahan yang bakal terasa pada revisi Kurikulum 2013 adalah pada penyederhanaan penilaian siswa, khususnya di penilaian spiritual dan sosial. Pada tahun ajaran lalu, guru mengeluhkan penilaian siswa yang sangat kompleks, di mana guru Matematika sekalipun harus menilai sisi spiritual dan sosial siswa. ”Jadi nanti hanya guru PPKN dan guru agama yang akan menilai. Tapi jika ada siswa yang mencontek di pelajaran Matematika guru itu bisa melaporkannya ke guru Agama atau PPKN itu,” katanya kemarin.
     Totok menjelaskan, nama kurikulum tidak akan mengalami perubahan. Kemendikbud akan tetap memakai nama Kurikulum 2013 dan diterapkan secara nasional. Kemendikbud tahun ini juga akan mengubah sistem pada proses berpikir anak. Kalau dulu siswa SD hanya akan diajari sebatas kemampuan memahami, SMP menganalisis dan siswa SMP harus sudah bisa menciptakan. Kemendikbud mengubahnya dengan menggabungkan ketiga kemampuan itu di semua jenjang. Siswa SD pun boleh menciptakan sesuatu karena mereka akan terbiasa berpikir ilmiah.

Berikut poin-poin penting revisi Kurikulum 2013.
  1. Penyederhanaan aspek penilaian siswa oleh guru. Pada K13 versi lawas, seluruh guru wajib menilai aspek sosial dan spiritual (keagamaan) siswa. Sistem ini yang lantas dikeluhkan banyak guru. Dalam skema yang baru, penilaian sosial dan keagamaan siswa cukup dilakukan oleh guru PPKn dan guru pendidikan agama-budi pekerti. Sementara guru fisika dan mata pelajaran lainnya hanya menilai aspek akademik sesuai bidang yang diajarkan saja. Kendati demikian, guru mata pelajaran lain boleh menilai aspek sosial sewajarnya. Seperti terkait kenakalan atau misalnya saat siswa ketahuan mencontek.
  2. Proses berpikir siswa tidak dibatasi. Pada kurikulum yang lama, berlaku sistem pembatasan. Yaitu, anak SD sampai memahami, SMP menganalisis, dan SMA mencipta. Pada kurikulum hasil revisi ini, anak SD boleh berpikir sampai tahap penciptaan. Tentunya dengan kadar penciptaan yang sesuai dengan usia.
  3. Teori 5M (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mencipta) tidak sebatas menjadi teori saja. Tetapi, guru dituntut untuk benar-benar menerapkan dalam pembelajaran.
  4. Struktur mata pelajaran dan lama belajar di sekolah tidak diubah. Secara umum tidak banyak perubahan pada Kurikulum 2013 edisi revisi kali ini, Namun Kemendikbud berharap para pelatih bisa menyajikan unsur kebaruan dalam K13 versi revisi itu. “ K13 versi baru ini tetap mendukung proses belajar di kelas yang menyenangkan,” Ujar Totok.
     Mantan kepala Biro Kepegawaian Kemendikbud itu menambahkan, narasurmber Nasional (NN) dan Instruktur Nasional (IN) yang kemarin juga resmi dikukuhkan dituntut harus bisa berperan maksimal. Sehingga nanti ketika melatih guru di tingkat provinsi atau sekolah tidak mengalami hambatan.